Virgil van Dijk mulai melontarkan pandangannya tentang kehidupan setelah karier sebagai pesepakbola profesional berakhir. Kapten Liverpool itu menegaskan bahwa meski isu pensiun kerap muncul, fokus utamanya saat ini masih sepenuhnya untuk bermain dan memberi kontribusi maksimal di level tertinggi. Namun, ia tak menampik sudah memikirkan peran apa yang ingin ia jalani kelak.
Jalan panjang menuju elite dunia
Karier Van Dijk bukanlah kisah instan. Bek asal Belanda itu meniti perjalanan dari Groningen, lalu mencuri perhatian bersama Celtic dan Southampton, sebelum akhirnya mendarat di Liverpool pada Januari 2018 dengan nilai transfer yang sempat memecahkan rekor dunia untuk seorang bek. Keputusan itu terbukti tepat, dengan koleksi trofi Liga Inggris dan Liga Champions yang kini menghiasi lemari prestasinya.
Musim 2025/26 sendiri tak sepenuhnya berjalan mulus bagi Liverpool. Meski melakukan belanja besar pada bursa transfer musim panas, performa tim sempat naik-turun dan memancing kritik. Van Dijk bahkan terlibat adu argumen dengan Wayne Rooney, menunjukkan betapa besarnya tekanan yang menyertai status sebagai pemain top.
Sorotan tajam dan tanggung jawab mantan pemain
Dalam perbincangan dengan Gary Neville, Van Dijk menyoroti peran para eks pesepakbola dalam menyampaikan kritik. Ia menilai kritik adalah bagian dari sepakbola, namun harus disampaikan dengan bijak, terutama di era media sosial yang sarat judul sensasional.
Menurutnya, pemain muda berada di posisi paling rentan. Pujian memang mudah dinikmati saat performa sedang bagus, tetapi kritik keras dan perundungan daring bisa berdampak besar pada kondisi mental. Van Dijk menekankan bahwa mantan pemain yang pernah merasakan kerasnya dunia sepakbola memiliki tanggung jawab moral untuk memahami dampak dari setiap komentar yang mereka lontarkan.
Bukan pelatih, bukan pula pandit
Ketika ditanya tentang rencana setelah pensiun, Van Dijk memberi jawaban yang cukup tegas. Ia tak melihat dirinya menjadi pandit, dan juga belum merasa terpanggil untuk menjadi pelatih. Baginya, dunia kepelatihan masih dipenuhi tekanan yang sama besarnya dengan menjadi pemain, namun dengan kontrol yang jauh lebih terbatas di lapangan.
Sebaliknya, Van Dijk justru menikmati perannya sebagai inspirasi bagi generasi muda. Ia aktif mengunjungi akademi Liverpool dan memiliki turnamen usia muda sendiri, dengan ambisi menjadikannya ajang U-13 terbesar di dunia. Di situlah ia merasa bisa memberi dampak nyata bagi masa depan sepakbola.
Fokus menutup musim dengan kuat
Untuk saat ini, semua rencana jangka panjang itu dikesampingkan. Van Dijk sepenuhnya berkonsentrasi membantu Liverpool mengamankan tiket Liga Champions. Dengan kontraknya yang memasuki fase akhir, tampil di kompetisi elite Eropa menjadi target utama sang kapten.
Meski Liverpool masih bertahan di Liga Champions dan Piala FA, kekalahan 1-2 dari Manchester City di Anfield menjadi pukulan berat. Posisi The Reds tertahan di peringkat enam, terpaut lima poin dari zona empat besar dan berada di bawah bayang-bayang pesaing terdekat.
Van Dijk menegaskan bahwa konsistensi, kerja keras, dan menikmati setiap momen adalah kunci untuk bangkit. Bagi sang kapten, musim ini masih menyimpan peluang, dan tugasnya adalah memastikan Liverpool tetap bersaing hingga akhir.
liputan oleh Goalpedia.me
