“Saya Hanya Dec dari Kingston” – Declan Rice Merespons Isu Ballon d’Or dengan Rendah Hati

“Saya Hanya Dec dari Kingston” – Declan Rice Merespons Isu Ballon d’Or dengan Rendah Hati

Nama Declan Rice kembali masuk dalam perbincangan elite sepakbola dunia. Gelandang Arsenal itu disebut-sebut layak masuk radar Ballon d’Or dan bahkan dinilai sebagai salah satu gelandang terbaik di planet ini. Namun, di tengah pujian yang terus mengalir, Rice memilih tetap membumi.

Perjalanan karier Rice dalam beberapa tahun terakhir memang melesat tajam. Dari pemain bertahan serba bisa di West Ham United, ia berkembang menjadi poros utama lini tengah Arsenal dan tim nasional Inggris. Transformasi tersebut membuatnya bukan hanya dipuji dari sisi teknis, tetapi juga dianggap sebagai kandidat kuat kapten Inggris di masa depan.

Lahir dan besar sebagai pemain akademi West Ham, Rice sempat membela Republik Irlandia sebelum memutuskan beralih kewarganegaraan internasional ke Inggris pada 2019. Di The Hammers, ia tumbuh sebagai pemimpin, mencapai puncaknya saat mengangkat trofi Conference League 2023 sebagai kapten tim. Tak lama kemudian, Arsenal menebusnya dengan nilai transfer fantastis £105 juta.

Sejak tiba di Emirates Stadium, reputasi Rice kian menguat. Perannya semakin krusial, pengaruhnya di lapangan kian terasa, dan namanya mulai disandingkan dengan para pemain kelas dunia. Tak sedikit yang meyakini bahwa penghargaan individu maupun kolektif hanya tinggal menunggu waktu.

Menanggapi pembahasan soal Ballon d’Or saat berbincang dengan Jamie Redknapp di Sky Sports, Rice memberikan jawaban santai namun penuh makna. Ia menegaskan bahwa dirinya tetaplah pribadi sederhana di balik sorotan besar.

“Saya hanya Dec dari Kingston, kan? Tapi memang, itu pembicaraan yang pantas. Fans Arsenal sangat menghargai apa yang saya lakukan sekarang, dan sebelumnya fans West Ham juga melakukan hal yang sama,” ujarnya.

Rice mengakui bahwa dibandingkan dengan pemain-pemain terbaik dunia adalah sesuatu yang menyenangkan. Baginya, pengakuan semacam itu menjadi tanda bahwa ia berada di jalur yang benar dan bermain di level tertinggi yang dituntut darinya.

Di balik performa impresif tersebut, peran Mikel Arteta tak bisa diabaikan. Rice mengungkapkan bahwa sang manajer justru menjadi sosok yang paling keras menuntut peningkatan dirinya, terutama di awal musim.

Ia bercerita bahwa setelah dua laga pertama musim berjalan, Arteta memanggilnya ke kantor. Dalam pertemuan itu, sang pelatih menyampaikan ketidakpuasannya terhadap beberapa aspek permainan Rice, mulai dari detail posisi, intensitas berlari, hingga penguasaan bola.

Menurut Rice, teguran tersebut justru menjadi pemicu. Ia menyadari bahwa performanya belum berada di level terbaik dan memilih menjadikan kritik itu sebagai bahan bakar untuk berkembang. Ia menilai Arteta sangat memahami kapan harus menekan pemainnya agar potensi maksimal bisa keluar.

Kini, hubungan keduanya berbuah pujian. Arteta secara terbuka menyebut Rice sebagai pemain terbaik di posisinya pada musim 2025/2026. Sang manajer menilai Rice terus menambahkan dimensi baru dalam permainannya dan masih memiliki ruang besar untuk berkembang.

Di sisi lain, Arsenal tetap menjaga fokus kolektif. Setelah tiga musim beruntun finis sebagai runner-up Liga Primer, The Gunners kembali membidik gelar dengan standar tinggi yang terus dijaga, di mana Rice menjadi salah satu pilar utamanya.

liputan oleh Goalpedia.me