Mandul dari Open Play Selama Tujuh Laga: Ada Apa dengan Erling Haaland?

Mandul dari Open Play Selama Tujuh Laga: Ada Apa dengan Erling Haaland?

Sorotan kembali tertuju pada Erling Haaland. Penyerang andalan Manchester City itu tengah berada dalam fase yang jarang terlihat sepanjang kariernya: tumpul dari permainan terbuka. Tujuh pertandingan beruntun berlalu, Haaland hanya mampu mencetak satu gol—itu pun berasal dari titik penalti—sebuah catatan yang jauh dari standar tinggi yang biasa ia tetapkan sendiri.

Ironisnya, perjalanan City ke markas Bodo/Glimt di Liga Champions justru membuka peluang bersejarah bagi Haaland. Ia berkesempatan menjadi pemain Norwegia pertama yang mencetak gol ke gawang klub asal Norwegia di kompetisi elit Eropa tersebut. Meski laga digelar jauh di Lingkar Arktik dan memerlukan perjalanan panjang dari Manchester, pertandingan ini tetap bernuansa “pulang kampung” bagi bintang terbesar sepak bola Norwegia saat ini.

Datang ke Norwegia dalam Tekanan

Alih-alih pulang dengan aura positif, Haaland justru membawa beban performa. Kekalahan City dari Manchester United menjadi salah satu titik terendah, di mana sang striker kesulitan memberi dampak berarti. Ketajaman yang biasanya menjadi senjata utama City terlihat menurun, seiring padatnya jadwal dan minimnya rotasi.

City bahkan mengubah pola perjalanan mereka demi beradaptasi dengan lapangan sintetis Stadion Aspmyra. Guardiola memilih membawa tim lebih awal agar para pemain, termasuk Haaland, terbiasa dengan permukaan yang jarang mereka jumpai sejak lawatan ke Young Boys pada 2023—sebuah laga yang justru kala itu menjadi panggung subur bagi Haaland.

Guardiola Tak Punya Banyak Opsi

Secara ideal, Pep Guardiola ingin memberi waktu istirahat kepada Haaland. Namun realitas berkata lain. Musim ini, Haaland telah tampil dalam 30 dari 32 laga City, mencatat menit bermain tertinggi di dalam skuad. Trauma kegagalan City di Liga Champions musim lalu membuat Guardiola enggan mengambil risiko, terlebih posisi mereka di klasemen masih belum sepenuhnya aman.

Situasi makin rumit karena absennya Omar Marmoush yang harus membela Mesir di Piala Afrika. Kondisi tersebut menjadikan Haaland satu-satunya penyerang tengah murni yang tersedia, memaksanya tampil di berbagai kompetisi, termasuk laga-laga domestik yang sebelumnya bukan prioritas utamanya.

Kelelahan Mulai Terlihat

Guardiola secara terbuka mengakui Haaland berada dalam kondisi lelah. Jadwal padat, minim rotasi, dan tuntutan tinggi membuat performanya tak lagi seledak awal musim, ketika ia mencetak 24 gol dari 23 laga. Penampilannya melawan United, yang merupakan laga keenam dalam rentang 17 hari, menjadi indikasi jelas bahwa fisik Haaland mulai terbebani.

Kritik pun bermunculan, terlebih setelah ia berhasil diredam oleh duet bek United, Lisandro Martinez dan Harry Maguire. Situasi tersebut memicu perdebatan, apakah City terlalu bergantung pada satu sosok di lini depan.

Peran Marmoush dan Manajemen Beban

Kembalinya Marmoush setidaknya memberi Guardiola opsi untuk meringankan beban Haaland. Meski sang pelatih menegaskan bahwa absennya Marmoush bukan alasan utama penurunan hasil City, kehadiran penyerang alternatif jelas membuat permainan City lebih variatif dan sulit ditebak.

Mengurangi ketergantungan pada Haaland bukan berarti menurunkan perannya, melainkan mengelola kondisinya agar tetap berada di level tertinggi saat laga-laga krusial tiba. Dengan rangkaian pertandingan penting melawan Tottenham, Liverpool, dan fase gugur kompetisi Eropa di depan mata, rotasi menjadi kebutuhan, bukan pilihan.

Waktunya Mengatur Ulang

Haaland bukan asing dengan periode sulit, dan sejarah menunjukkan ia selalu mampu bangkit. Namun, jika City ingin memaksimalkan potensi striker paling produktif di dunia saat ini, manajemen menit bermain menjadi kunci. Mengistirahatkannya di momen yang tepat bisa menjadi solusi agar ketajaman sang bomber kembali hadir saat paling dibutuhkan.

liputan oleh Goalpedia.me