Spekulasi soal masa depan Pep Guardiola kembali menguat. Kali ini datang dari Jamie Carragher, yang meyakini musim 2025/26 berpotensi menjadi “last dance” sang pelatih bersama Manchester City, meski kontraknya di Etihad Stadium sejatinya masih berlaku hingga musim panas 2027.
Carragher menilai ada banyak tanda yang mengarah pada kemungkinan Guardiola memilih pergi lebih cepat. Mulai dari arah kebijakan klub, perencanaan suksesi, hingga dinamika internal yang membuat musim ini terasa seperti fase penutup dari sebuah era besar di Liga Primer.
Guardiola dan Deretan Trofi Fenomenal
Nama Guardiola sudah lama identik dengan revolusi sepakbola modern. Ia mengubah Barcelona menjadi mesin dominasi bersama Lionel Messi, Xavi, dan Andres Iniesta, lalu melanjutkan kesuksesan domestik bersama Bayern Munich.
Sejak tiba di Manchester City pada 2016, Guardiola membawa klub ke level yang belum pernah dicapai sebelumnya. Enam gelar Liga Primer, satu Liga Champions, treble bersejarah musim 2022/23, dan total 18 trofi menjadi bukti dominasi City di bawah arahannya. Bahkan musim ini, peluang menambah koleksi gelar masih terbuka lebar.
Carragher: Aroma ‘Last Dance’ Terasa Kuat
Dalam kolomnya di The Telegraph, Carragher menilai publik sepakbola Inggris sedang menyaksikan fase akhir perjalanan Guardiola di Liga Primer.
Menurutnya, keengganan Guardiola untuk memberikan kepastian soal masa depan justru memperkuat dugaan bahwa perubahan besar akan segera terjadi. Aktivitas transfer City dan perencanaan jangka panjang klub juga dianggap sebagai sinyal bahwa manajemen ingin memastikan Guardiola pergi dengan cara terbaik: membawa trofi tambahan.
Carragher menyebut Guardiola sebagai pelatih terhebat sepanjang masa, bukan hanya karena jumlah trofi, tetapi karena dampaknya dalam mengubah cara sepakbola dimainkan dan dipahami.
Sejajar dengan Para Legenda
Carragher bahkan menempatkan Guardiola sejajar dengan nama-nama besar seperti Johan Cruyff dan Arrigo Sacchi. Ia menilai Guardiola bukan sekadar pemenang, melainkan inovator yang meninggalkan pengaruh jangka panjang.
Ia juga membandingkan potensi perpisahan Guardiola dengan cara para manajer legendaris lain meninggalkan klub, seperti Jurgen Klopp di Liverpool dan Sir Alex Ferguson di Manchester United. Menurutnya, meninggalkan klub dengan syarat sendiri adalah kemewahan langka di sepakbola modern—dan Guardiola mungkin berada di posisi itu.
Warisan yang Tak Tergantikan
Carragher menegaskan, apa pun keputusan Guardiola nanti, warisannya sudah aman. Gaya bermain City di bawah asuhannya akan terus menjadi referensi bagi tim-tim yang ingin menang dengan dominasi, kontrol, dan keindahan permainan.
Guardiola, seperti Klopp, mungkin sampai pada titik di mana tidak ada lagi yang perlu dibuktikan. Jika ia benar-benar memilih pergi, maka yang tersisa adalah standar baru yang telah ia tetapkan untuk Liga Primer dan sepakbola Eropa.
Sementara itu, City masih harus menjalani jadwal padat. Mereka akan bertandang ke Anfield menghadapi Liverpool, melaju ke final Piala Liga melawan Arsenal, serta memastikan tempat di babak 16 besar Liga Champions. Perebutan gelar Liga Primer pun belum sepenuhnya tertutup, meski jarak enam poin di puncak klasemen menjadi tantangan tersendiri.
liputan oleh Goalpedia.me
