Harry Maguire Tolak Suap £50.000 dari Polisi Yunani dalam Kasus Penyerangan di Mykonos

Harry Maguire Tolak Suap £50.000 dari Polisi Yunani dalam Kasus Penyerangan di Mykonos

Kasus hukum yang menjerat bek Manchester United, Harry Maguire, kembali menjadi sorotan setelah muncul laporan bahwa dirinya pernah ditawari penyelesaian kasus dengan membayar suap sebesar £50.000 kepada polisi Yunani. Tawaran tersebut disebut-sebut dapat membuat tuduhan penyerangan yang menimpanya di pulau Mykonos menghilang, namun Maguire dikabarkan menolak keras opsi tersebut.

Pemain timnas Inggris itu sebelumnya dijatuhi hukuman penjara 15 bulan yang ditangguhkan setelah dinyatakan bersalah atas beberapa tuduhan, termasuk penyerangan ringan, perlawanan terhadap penangkapan, serta upaya suap. Insiden tersebut terjadi saat ia tengah berlibur bersama keluarga pada Agustus 2020.

Perjalanan hukum Maguire berlangsung panjang dan penuh penundaan. Vonis awal berupa hukuman 21 bulan penjara sempat dijatuhkan, namun kemudian dibatalkan setelah ia mengajukan banding sesuai prosedur hukum Yunani. Sejak saat itu, sidang ulang kasusnya sudah ditunda hingga empat kali, termasuk pada Mei 2023 karena pengacara pembela tidak tersedia, Februari 2024 akibat aksi mogok pengacara di Yunani, serta dua penundaan lain pada Maret dan Oktober 2025.

Selama proses tersebut, laporan dari media Inggris menyebut bahwa pihak tertentu yang berkaitan dengan polisi yang terlibat dalam insiden tersebut beberapa kali menawarkan penyelesaian di luar pengadilan. Tawaran itu diklaim berupa pembayaran £50.000 agar perkara tersebut tidak dilanjutkan. Namun sumber yang dekat dengan Maguire menyatakan sang pemain lebih memilih mempertahankan posisinya di pengadilan daripada membayar suap.

Menurut sumber tersebut, Maguire bertekad membersihkan namanya sepenuhnya. Ia bahkan siap membawa perkara ini hingga ke Mahkamah Agung Yunani jika diperlukan. Baginya, mempertahankan prinsip lebih penting daripada menyelesaikan kasus melalui pembayaran yang dianggap tidak sesuai dengan nilai yang ia pegang.

Insiden yang menjadi awal kasus ini terjadi saat Maguire berlibur bersama delapan anggota keluarganya, termasuk saudara perempuan, saudara laki-laki, serta istrinya. Tim hukum sang pemain menyebut bahwa situasi memanas setelah dua pria mendekati adiknya dan diduga menyuntikkan zat yang tidak diketahui, membuatnya pingsan.

Dalam wawancara sebelumnya, Maguire mengungkapkan bahwa keluarganya berusaha membawa sang adik ke rumah sakit setelah kejadian tersebut. Namun menurut versinya, mereka justru dibawa ke kantor polisi oleh pria berpakaian sipil yang kemudian diduga melakukan kekerasan.

Bek Inggris itu mengaku sempat merasa dirinya dan keluarganya sedang diculik. Ia mengatakan mereka dipaksa berlutut, dipukul, dan bahkan diancam bahwa karier sepak bolanya akan berakhir. Dalam kepanikan tersebut, ia mencoba melarikan diri karena tidak yakin apakah pria-pria tersebut benar-benar polisi.

Maguire juga menegaskan bahwa tuduhan mengenai dirinya mendorong polisi hingga menyebabkan cedera serta mencoba menyuap petugas adalah sesuatu yang menurutnya tidak masuk akal. Ia menyebut pengalaman tersebut sebagai kejadian mengerikan yang tidak ingin ia alami lagi.

Meski menghadapi persoalan hukum yang panjang, Maguire tetap fokus pada kariernya bersama Manchester United serta menjaga peluangnya untuk masuk skuad timnas Inggris di ajang FIFA World Cup 2026.

liputan oleh Goalpedia.me

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *