Sorotan tajam kembali mengarah ke Bruno Fernandes. Kapten Manchester United itu kembali dicap “pemalas” oleh sebagian pengamat, meski kontribusinya di lapangan tak terbantahkan. Namun, tudingan tersebut langsung ditepis oleh mantan striker Setan Merah, Louis Saha, yang menilai kritik terhadap Fernandes muncul justru karena perannya yang terlalu sentral—sebuah situasi yang dulu juga dialami Cristiano Ronaldo di Old Trafford.
Pilar kebangkitan Manchester United
Manchester United perlahan bangkit di bawah arahan Ruben Amorim. Setelah start musim 2025/26 yang tersendat, performa Setan Merah menanjak signifikan. Mereka kini bertengger di peringkat keenam Liga Primer, hanya terpaut dua poin dari zona Liga Champions, dengan catatan hanya satu kekalahan dari sepuluh laga terakhir.
Di balik kebangkitan itu, nama Bruno Fernandes kembali menjadi motor utama. Gelandang asal Portugal tersebut memimpin daftar assist liga dengan tujuh umpan gol, sekaligus menyumbang lima gol. Perannya sebagai pengatur tempo, kreator serangan, sekaligus pemimpin di lapangan kembali terlihat jelas.
Kritik yang tak pernah reda
Meski tampil konsisten sejak didatangkan dari Sporting CP pada 2020, Fernandes tak pernah benar-benar lepas dari kritik. Gestur tubuhnya yang ekspresif dan caranya menegur rekan setim kerap dianggap berlebihan. Sebagian menilai sikap itu mencerminkan semangat juang, sementara yang lain menganggapnya sebagai sumber tekanan tambahan saat tim sedang tertekan.
Louis Saha melihat fenomena ini dari sudut pandang berbeda. Menurutnya, Fernandes dikritik bukan karena kurang kontribusi, melainkan karena ia adalah pusat permainan—target empuk bagi siapa pun yang ingin mencari kambing hitam.
Pembelaan Louis Saha
Dalam wawancara bersama BOYLE Sports, Saha dengan tegas membela Fernandes.
“Bruno selalu menunjukkan komitmen, intensitas, dan kualitas. Kritik terhadapnya sering kali terdengar murahan,” ujar Saha.
Ia kemudian menarik garis perbandingan dengan sosok-sosok ikonik United.
“Perbandingan dengan Roy Keane atau Cristiano Ronaldo itu wajar. Mereka semua adalah titik fokus tim. Dan karena itu pula, mereka mudah diserang. Kontribusi Bruno bukan hanya soal gol dan assist, tapi juga lari tanpa bola, energi, dan emosinya di lapangan.”
Menurut Saha, struktur tim United yang kini lebih rapi justru membuat kualitas Fernandes semakin terlihat. “Saat tim bekerja lebih baik, Bruno berkembang pesat. Itulah mengapa perannya begitu besar.”
Loyalitas di atas segalanya
Pembelaan Saha sejalan dengan pengakuan Fernandes sendiri. Gelandang berusia 31 tahun itu mengungkap bahwa ia sempat dua kali mendapat peluang untuk meninggalkan United, namun memilih bertahan.
“Saya bisa saja pergi, mungkin memenangkan lebih banyak trofi. Tapi klub ini memberi saya kepercayaan, dan saya ingin membalasnya,” kata Fernandes dalam wawancara dengan Rio Ferdinand Presents.
Ia menyadari bahwa penilaian publik sering kali bergantung pada jumlah trofi, bukan kontribusi di lapangan. Namun, bagi Fernandes, loyalitas dan tanggung jawab sebagai pemimpin memiliki nilai tersendiri.
Ujian berat menanti
Manchester United kini bersiap menghadapi tantangan besar dengan bertandang ke markas Aston Villa, Minggu (21/12) malam WIB. Villa asuhan Unai Emery sedang dalam performa puncak di posisi ketiga klasemen. Setelah itu, United akan menutup tahun 2025 dengan dua laga kandang melawan Newcastle United dan Wolves.
Di tengah tekanan dan kritik yang terus mengiringi, Bruno Fernandes kembali berdiri di garis depan—bukan hanya sebagai kreator, tetapi juga simbol tanggung jawab di Old Trafford.
liputan oleh Goalpedia.me
